SMPN 1 Turen - Profil

Print

Kanti Raras Trus Dumadi

Written by Super User.

Siapapun yang pernah mengunjungi SMP Negeri I Turen pasti membaca tulisan yang tertempel di dinding bangunan utama Kanti Raras Trus Dumadi . Akan tetapi jarang yang mengetahui maksud kalimat itu. Tidak semua penghuni SMP Negeri I Turen  mengerti arti tulisan yang hampir setiap saat dibacanya.  Ada seorang alumnus yang  kebingungan ketika putranya bertanya apa arti tulisan itu. Akhirnya dijelaskan bahwa Kanti Raras Trus Dumadi artinya siswa dilarang lewat . Tidak aneh ada pendapat seperti itu,  sebab  siswa dilarang melalui jalan di bawah tulisan  itu karena memang ada ruang  Kepala Sekolah dan  kantor Tata Usaha.


Kanti Raras Trus Dumadi  berasal dari bahasa Jawa . Menurut kamus bahasa Jawa ( Bausastra jawa). Kata kanti adalah ucapan ngoko  memiliki arti   nganti, sranta, bisa nyabarake . Sedangan  Raras berarti laras,  diraras- raras  berarti digagas-gagas .Trus artinya terus. Dumadi artinya titah, kang  dititahake.
Dumadi bisa juga berasal dari kata dadi yang mendapat sisipan um. Kata dadi dalam bahasa Jawa  berarti jadi. Sehingga
Kanti Raras Trus Dumadi dalam bahasa Jawa memiliki pengertian bisa nyabarake sing digagas trus dumadi apa kang dikarepake. Dalam bahasa Indonesia berarti dengan tekun dan sabar mewujudkan cita cita agar menjadi kenyataan .
Dari pengertian di atas mungkin saja para sesepuh pendiri SMP Negeri I Turen berharap siswa  bersabar  mengerjakan tugas sebagai seorang pelajar serta  tekun dalam menuntut ilmu di SMP Negeri I Turen guna  mewujudkan apa yang  dicita-citakannya, sehingga ada keselarasan atau keseimbangan antara harapan dan kenyataan.
Akan tetapi kalimat Kanti Raras Trus Dumadi sebenarnya adalah juga berarti angka tahun berdirinya SMP Negeri I Turen yaitu pada tahun1961.


Hal ini telah dipersiapkan secara khusus menggunakan sengkalan . 
Sengkalan  biasa digunakan di kantor-kantor , sekolahan, tempat wisata serta lembaga-lembaga lain  . Penulisannya menggunakan aksara Jawa, selain memperhatikan aspek keindahan juga untuk menambah wibawa. Sungguh budaya Jawa halus dan penuh lambang.
Sengkalan adalah  peribahasa atau kalimat,  kadang juga berupa gambar  yang memiliki arti angka tahun. Sengkalan dapat dipakai sebagai peringatan terjadinya sebuah peristiwa atau kejadian penting yang pernah terjadi.  Misalnya  untuk mengingat terjadinya  gempa bumi  dahsyat tahun 1874 yang merobohkan   sebagian bangunan masjid Agung di Jogya, Setelah diperbaiki  ditandai dengan menggunakan sengkalan Pandhita Trus Giri Nata (1797).

Contoh lain:

01.Kalimat sengkalan yang  menunjukkan tahun berdirinya Demak dituliskan Geni Mati Siniram ing Janmi

02.Mangkatnya Maha Patih Gajahmada ditulis Gegana Muka Matendhu

03.Sengkalan tahun yang dipilih untuk Jakarta I adalah  Mantri Lima Prang Lebu

Adapun contoh sengkalan yang berupa gambar:

01.gambar naga yang dikendarai manusia bunyinya Naga Muluk Tinitihan Janma artinya tahun 1708

02.gambar rasaksa yang sedang makan daging di Candi Sukuh dibaca Gapura Buta Memangan Wong artinya1379.

Sengkalan menjadi awal mula penggunaan perhitungan Tahun Saka  ( tahun Jawa). Awalnya sama dengan tahun 78 Masehi, Jadi apabila akan mengubah dari tahun Saka ke tahun Masehi ditambah 78. Misalnya: Rebahing (6)  Gapura (9) Swara (7)  Tunggal (1) diartikan 1796 Saka. Bila dijadikan tahun Masehi  ditambah 78 menjadi 1874 Masehi. Untuk mengartikan sengkalan harus dibalik, maksudnya diurutkan dari belakang. Karena memakai dasar perhitungan peredaran bulan(candra) maka disebut juga candrasengkala. Sedangkan tahun masehi memakai dasar perhitungan peredaran matahari (surya), sehingga disebut juga suryasengkala.
Adapun kata kata dalam bahasa jawa yang memiliki arti angka tahun adalah sebagai berikut:

01.Kata yang memiliki arti atau sifat tunggal, satunggal, misalnya: Gusti, ratu, buni, rembulan, tunggal, wani, eka, uwong, janma, rupa, sawiji, dll

02.Kata yang memiliki sifat atau jumlahnya dua (kalih), misalnya: dwi, karna, netra. mripat, katon, nembah, suku , swiwi, lar, manten, dll

03.Kata yang memiliki watak tiga, misalnya : tri, agni, geni, guna, elmu, widya, dll

04.Watak empat(sekawan), seperti banyu, catur, dadi, segara, wahana, warih, dll

05.Watak lima(gangsal), seperti : angin, astra, buta, wil yaksa, indra, maruta, bayu, pandhawa, panca warayang, dll

06.Kata memiliki watak enam( enem) seperti legi, lir, pendah, manis oyag, obah, rubuh, retu, sad, sarkara dll.

07.Kata yang memiliki watak tujuh(pitu), misalnya; sapta, ancala, gunung, wukir, biksu, resi, kuda, turangga, muni, swara, dll

08.Watak delapan(wolu), misalnya : esthi, gajah, dipangga, madya, pujangga, manggala, sawer, brahmana, naga, dll

09.Watak Sembilan (sanga), misalnya :dewa, guwa, lawanglen,nawa, sanga, song, trus, trustha, dll

10.Kata yang memiliki watak o, seperti das, ilang, gegana, langit, suwung, sepi, sirna, musna, dll

Dengan demikian kita patut berterimakasih kepada para sesepuh yang merancang moto atau semboyan serta harapan yang dipilih menggunakan sengkalan bahasa Jawa, Karena sekarang kita merasakan pentingnya melestarikan budaya Jawa sebagai Budaya yang Adiluhung.


Sumber : Kondang Basa kelas 9 tahun 2004